Saham Chat
Click sini untuk berkomentar!!!24-May-13 23:31 |
baru banget nih *guest*:
@Matalangit: balik ke info BUMN tadi, kalo saya melihat dari sisi lain mungkin pemerintah kita harus turut campur karena catatan sejarah dari pendiri bangsa ini yg dituangkan dalam UUD kalau tidak salah pasal 33 mewajibkan negara melindungi asetnya untuk kepentingan rakyat, tapi memang sayangnya banyak yg aji mumpung menganbil keuntungan sendiri apalagi setelah otonomi daerah diberlakukan: maaf kalo ga nyambung ya, semangat belajar hehehe
24-May-13 23:26 |
baru banget nih *guest*:
Ok infonya mantap, moga2 mencerahkan juga bagi member yg kemarin membicarakannya.
24-May-13 23:23 |
theeyeinthesky *guest*:
bung @ baru banget nih : setelah saya telaah kembali, 180 ribu lot senilai 3 Milyar oleh BNP Paribas itu bahkan gak sampai 0.1% nya dari total kepemilikan saham milik publik yang sekitar 8%-an (saham beredar yang diluar kepemilikan saham pemilik pengendali). Artinya nominal 3 milyar tersebut gak ada apa-apanya dibanding dengan nominal saham yang dipegang broker institusi yg udah megang lebih dari itu dari awal IPO. kalo saya lihat data transaksi di broker saya, dari july 2011 sejak IPO, kelihatan banyak banget broker institusi yang nyangkut di harga diatas 100. rata-rata broker teratas yang nyangkut megang saham STAR diatas nominal 50milyar-100milyar per broker (mudah-mudahan saya gak salah liat data dan angkanya saya masih tahap pembelajar ankalo untuk software online). STAR bisa saja naik sih, tapi harus tunggu prospek dari lapkeunya dan bergerak dulu transaksinya sampai diatas harga 90-100am dulu.. kalo cuma 50-70 biasanya cuma gerak abal-abal.. bukan begitu bukan? thank you for the topic.
24-May-13 23:21 |
bagong online *guest*:
theeyeinthesky *guest* (39.213.xxx.xxx): wah berbeda dengan saya... saya menganggap libertarian adalah antek new world order yg ingin membuat suatu multinational company tertentu yg pada akhirnya pasti akan lebih kuat daripada pemerintahan... contoh gampangnya seperti kedudukan perusahaan GG di kediri... dimana seluruh gerakan masyarakan bertumpu pada perusahaan tersebut maka perusahaan tersebut memiliki de facto kekuasaan nyaris absolut...
24-May-13 23:12 |
theeyeinthesky *guest*:
Tadi saya bilang, saya menghindari saham-saham BUMN karena alasan pribadi tertentu. Saya menghindari saham-saham BUMN karena idealisme pribadi saya semata saja: karena saya pribadi adalah pendukung konsep Pasar Bebas (konsep Free-Market, yaitu konsep ekonomi Liberal yang berakar dari konsep Libertarian), yang kurang lebih -mau tidak mau- sekarang sudah mulai menjadi bagian dari penerapan sistem ekonomi baru di seluruh dunia), karena saya pribadi percaya jika negara turut campur tangan dalam ekonomi (lewat BUMNnya) maka hanya akan menghasilkan kondisi pasar yang tidak sehat, kasus suap/kasus korupsi, monopoli harga, monopoli pasar, dan produk-produk yang inferior.
24-May-13 23:09 |
theeyeinthesky *guest*:
Kalo perusahaan super memang itu udah jelas tipikal strong businesses gak usah terlalu pusing mantengin PER-nya deh. Untuk invest gak usah pusing, kalo memang statusnya udah Perusahaan Super atau BUMN besar. Dan gak perlu pusing gonjang-ganjing 'asap' di media (ingat INDOSAT, EXCEL dan INDOFOOD gak sering banget digonjang-ganjing sama media?) Menurut saya kira-kira PER dibawah 15x untuk beli udah bagus untuk saham non-konsumsi dan PER dibawah 25x untuk saham konsumsi. Pantengin terus nilai PBV-nya. Yang penting akumulasi terus ketika PBV dibawah 4x. Invest itu mestinya Simpel, gaya investasi yang simpel biasanya performa harganya selalu over-perform untuk jangka seperti pembeli emas, mana pusing mereka mikirin PER dkknya. Saya kasi bocoran disini ya, saya sekarang holding investasi portfolio saham jangka panjang di Sektor Konsumsi yaitu beverages (MLBI, AQUA (dah dibuyback), ADES, ULTJ), makanan (CPIN, INDF, ICBP, MYOR), produk rumah tangga (UNVR, GEMA), kosmetik (TCID) dan farmasi (SQBI, KLBF, DVLA), dan selanjutnya Sektor Finansial yaitu banking (BBCA, PNBN, PNLF), dan Multifinance (CFIN, ADMF). Saya menghindari saham-saham BUMN karena alasan pribadi tertentu. Untuk kehati-hatiannya, di sektor konsumsi saya melihat performa inventory turnover, operation profit margin, dan brand popularity ('value tak terlihat' dari brand produk/perusahaan), dan utk sektor finansial saya mesti ekstra hati-hati dalam investasi, mengharuskan saya memilih bank yang kuat pendanaannya dan manajemennya harus yang lebih konservatif dan sudah pengalaman macam bank bca/panin, gini alasannya: ketika krisis ekonomi datang nanti, Sektor Banking adalah sektor yg paling duluan terseret (ini pengalaman ketika krisis 1998 di indonesia dan krisis 2008 di usa). Dari riset secara historikal, Sektor Konsumsi dan Sektor Finansial adalah dua sektor industri yang paling profitable sepanjang sejarah. Demikian sharingnya. Semoga inspiratif.
24-May-13 23:03 |
theeyeinthesky *guest*:
Sahamnya rekomendasi dari bung @ mr. a cuan hari ini bagus bagus banget tuh buat investasi... BEST,KIJA,ARNA,WSKT,ADHI,WIKA, PANS, PNIN, ICBP, TAXI.
24-May-13 23:00 |
baru banget nih *guest*:
Bung@Matalangit: kalau tidak salah minggu lalu ada member yg ributin pembelian sekitar 180ribu lot saham STAR oleh sekuritas BNP Paribas, adakah sesuatu yg bisa suhu share dari info tersebut?
Lihat Komentar sebelumnya...